1.Tradisi Mageret Pandan
Tradisi sakral Bali Aga ini menggunakan pandan berduri dan sangat tajam ini
adalah unik dan menurut ramagita, Tradisi Mageret pandan atau Perang
Pandan (Mekare-kare) dilakukan selama tiga hari dan juga tradisi ini merupakan sarana
latihan ketangkasan seorang prajurit dalam masyarakat Tenganan sebagai
penganut Agama Hindu aliran Dewa Indra sebagai
Dewa Perang.Yang terpenting dalam perang pandan tersebut tidak ada
menang kalah. Kalau ada yang sampai terluka akibat goresan pandan akan diobati
dengan obat yang telah disediakan yang berasal dari cuka kunir dan isen. Tak
heran jika Perang pandan ini menjadi tontonan menarik bagi wisatawan lokal dan
mancanegara.
Kepercayaan warga Tenganan agak berbeda dengan warga Bali pada umumnya dimana
Umat Hindu Bali yang menjadikan Tri
Murti sebagai dewa tertinggi. Namun bagi warga Tenganan, Dewa
Indra sebagai dewa perang adalah dewa dari segala dewa.
2.Tradisi Mekepung
Sejarah Tradisi / Atraksi Mekepung di Jembrana Bali dikembangkan pertama
kali sekitar tahun 1930 dengan joki berpakaian seperti prajurit istana. Mereka
bertelanjang kaki, mengenakan gaun kepala, syal, rompi, dan celana panjang
dengan pedang yang dibungkus kain bermotif kotak-kotak di pinggang. Karena
pakaian joki yang dikenakan selalu kotor setelah mekepung di sawah berlumpur,
maka mereka pindah ke jalan tanah dekat sawah.
Mekepung juga berarti kejar-kejaran, inspirasi berasal dari kegiatan petani
pengolahan sawah mereka sebelum mereka menanam benih padi yang bajak lahan
basah ke dalam lumpur dengan menggunakan bajak tradisional.
Bajak ditarik oleh dua ekor kerbau, kerbau mengenakan alat dekoratif
seperti lonceng kayu, sehingga ketika kerbau berjalan menarik bajak akan
terdengar suara seperti musik.
3.Tradisi Omed-Omedan
Merupakan tradisi / festival ciuman massal usai Hari Raya
Nyepi di Bali yang dilaksanakan setiap tahun sekali sebagai warisan
leluhur yang dilestarikan sampai saat ini.
tradisi yang unik yaitu Festival Omed – ciuman antara laki dan perempuan satu
desa yang tepatnya dilaksanakan di Banjar Kaja Desa Sesetan Denpasar Bali.
Setiap tahun, setidaknya 50 orang muda yang telah dewasa yang berpartisipasi dalam festival turun temurun ini ini.
Festival dimulai dengan doa di Banjar dan semua peserta harus mengikuti prosesi menjadi lancar dan keselamatan saat berciuman kemudian.Pada saat berdoa orang-orang muda dibagi menjadi dua kelompok. Yang pertama kelompok laki laki, dan yang lainnya adalah kelompok perempuan.
Setiap tahun, setidaknya 50 orang muda yang telah dewasa yang berpartisipasi dalam festival turun temurun ini ini.
Festival dimulai dengan doa di Banjar dan semua peserta harus mengikuti prosesi menjadi lancar dan keselamatan saat berciuman kemudian.Pada saat berdoa orang-orang muda dibagi menjadi dua kelompok. Yang pertama kelompok laki laki, dan yang lainnya adalah kelompok perempuan.
Dalam sejarahnya, Tradisi Omed-omedan dimulai pada abad ke-17. Sebelumnya
tradisi ini dilakukan pada hari Nyepi, namun pada tahun 1978 diputuskan untuk
menggantinya pada saat Ngembak Geni, atau sehari setelah Nyepi. “Tradisi ini
hanya untuk meluapkan kegembiraan teruna Teruni pada saat hari omed
omedan Ngembak-geni,” kata I Gusti Ngurah Oka Putra, Toko Banjardi daerah
Sesetan.
4.Tradisi Perang Siat Sampian
Tradisi yang dilaksanakan setiap tahun sekali di Pura Samuan Tiga ini
juga menarik perhatiann wisatawan asing, demikian dikutip dari
artikel perang sampian di Pura Samuan Tiga. Juga dalam kutipan artikel
tersebut dijelaskan pula bahwa, sebelum tradisi ini dimulai, dilakukan upacara
Nampiog, Ngober dan Meguak-guakan. Dalam upacara ini, ratusan warga
mengelilingi areal pura sambil menggerak-gerakkan tangan mereka seperti burung
gagak (goak).
Prosesi ini diikuti oleh para permas atau ibu-ibu yang sudah disucikan.
Selain ibu-ibu, para pemangku pura setempat juga ikut mengelingi areal Pura.
Setelah prosesi ini selesai dilanjutkan dengan upacara Ngombak. Pada upacara
ini para wanita yang berjumlah 46 orang, serta laki-laki atau sameton parekan
yang juga sudah disucikan berjumlah 309 orang melakukan upacara Ngombak
(melakukann gerakan seperti ombak).
Upacara ini dilakukan dengan cara berpegangan tangan satu sama lainnya,
kemudian bergerak laksana ombak. Setelah usai upacara ini, para laki dan wanita
tersebut langsung mengambil sampian (rangkaian janur untuk sesajen) dan saling
pukul serta lempar atau perang dengan sampian satu sama lainnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar